Arah Bisnis Kopi Papua: Memenuhi Permintaan di Indonesia sampai 100%

Monday, May 2nd 2016. | Bisnis Kopi
Barisa Kopi Papua, D.R. Kwano

Barisa Kopi Papua, D.R. Kwano

KSU Baliem Arabica sebagai produsen Kopi Papua, dan exportir tunggal Kopi Papua menyampaikan kepada seluruh penikmat dan pengusaha Kopi di Indonesia bahwa untuk panen tahun 2016 ini akan difokuskan untuk memenuhi permintaan Kopi Papua yang ada di Indonesia secara 100%, artinya kami upayakan untuk memenuhi semua permintaan kopi Papua yang ada di Indonesia.

Menurut Kepala Unit Marketing & Sales KSU Baliem Arbabica (Direktur PAPUAmart.com), Jhon Yonathan Kwano, kami dari Petani Kopi Papua, yang adalah Masyarakat Adat Papua di Kabupaten Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, Jayawijaya dan Tolikara telah mengambil keputusan utnuk memenuhi permintaan kopi di Indonesia sebelum berbicara mengenai pengiriman Kopi Papua ke pasar di Asia atau Amerika Serikat.

Menurut Kwano alasan utama fokus produksi Kopi Papua untuk pemenuhan kebutuhan di pasar di Indonesia ialah kapasitas produksi Kopi Papua standard export yang masih belum dapat dijamin dari sisi stabilitas total produksi.

“Kalau sudah mausk pasar global, maka kita harus pastikan berapa ton kami produksi setiap tahun. Kami tidak bisa masuk ke pasar internasional kalau produksi kopi Papua selalu naik-turun, antara 5 – 20 ton per tahunnya. Nanti kalau para pemain kopi Papua mengatur diri kami sendir di  tanah Papua sendiri, menyingkirkan para pemain yang tidak bermoral yang berkeliaran saat ini, itu baru kita akan dengan yakin masuk ke pasar global. Sebenarnya kita sudah masuk pasar global, tetapi dengan total produksi yang tidak stabil maka kita tidak dapat mempertahankan reputasi kita. jadi, persoalannya bukan dari sisi standard, atau kemampuan finansial dan administrasi, tetapi terutama dari sisi total produksi yang selalu berubah-ubah.”

demikiankata Kwano.

Masih menurut Kwano, pemasaran Kopi Papua difokuskan ke pasar Indonesia selain karena faktor total produksi yang tidak stabil, dari sisi bisnis, “pasar kopi di Indonesia sudah cukup menjanjikan, dikaitkan dengan jumlah kopi yang sanggup diproduksi oleh KSU Baliem Arabica. Oleh karena itu, kami memfokuskan diri kepada pasar di Indonesia dulu.,

Bukan itu saja, masyarakat Papua juga sudah semakin banyak meminum kopi. Banyak cafe telah dibuka di Jayapura saja dapat dikataan lebih dari 50 cafe sudah ada, belum lagi di seluruh kabupaten dan di provinsi Papua Barat. Ditambah lagi, KSU Baliem Arabica sendiri lewat BANANA Leaf Cafe telah membuka cafe-cafe dalam bentuk warung maupun meja kopi Papua di berbagia tempat di Tanah Papua sehingga banyak kopi yang dikonsumsi di Tanah Papua sendiri. Hal ini berakibat kopi yang dikirim keluar dari Tanah Papua sudah mulai berkurang.

Jhon Kwano melihat tidak lama lagi memang Kopi Papua akan diekspor ke pasar global, tetapi ia memperingatkan

BANANA Leaf Cafe, Cafe Kopi Papua

BANANA Leaf Cafe, Cafe Kopi Papua

Kita jangan punya pikiran kalau kopi grade A dan segala barang kualitas bagus orientasinya diekspor keluar. Kita harus rubah cara berpikir budak dan kaum terjajah. Kita harus minum kopi Grade A, standard export di Tanah Papua, kalau kita produksi kopi itu di sini. Kita sudah export emas, perak, tembaga, kayu, kakao, sekarang kualitas terbaik kopi juga ke pasar global, ini murni cara berpikir pengusaha mental budak.

Kita harus mampu memenuhi kebutuhan kopi di Tanah Papua. Semua penikmat kopi di Tanah Papua minum Kopi Papua Grade A, lalu kita penuhi permintaan kopi di Indonesia dalam bentuk Green Beans Grade A itu, setelah itu baru kita pikir tentang export ke negara dan bangsa lain.

Mental budak itu apa? Kalau tuannya senang, dia ikut senang. Dan kalau tuannya makan di meja, hambanya makan di luar meja. Tuannya makan yang inti, hambanya makan yang bekas dan yang tidak mau dimakan si tuan. Kami tidak menghitung nilai diri kita dari berapa ton kita export, tetapi berapa ton kita sendiri habiskan di tanah Papua dan di Indonesia.

Facebook Comments
tags: , , , ,