Calon Barista Papua Recruit KSU Baliem Arabica ke Tanah Papua per 13 Januari 2015

Wednesday, January 13th 2016. | Cerita Kopi

Pada tanggal 12 Januari merupakan hari bersejarah dalam sejarah Kopi Papua, secara khusus KSU Baliem Arabica lewat Unit Marketing & Sales PAPUAmart.com, karena pada hari ini berakhir proses magang, atau dalam pendekatan belajar-mengajar Papua sudah terkenal sejak nenek-moyang kita ialah datang, lihat, tiru, tanya, dengar, coba, yang hasilnya ialah sebuah proses “pengalaman”, yang dalam istilah metode belajar-mengajar modern kita sebut “learning by doing”. Tanggal 13 Januari ialah tanggal para calon Barista menuju Tanah leluhur, pulau New Guinea.

Dalam pelepasan ini, dengan keharuan yang penuh harapan, menatap ke masa depan Kopi Papua yang begitu cerah, Jhon Kwano melatunkan “Lee Ndawe”, yang dalam bahasa Indonesia ialah Kidung Ratapan,

“Ya Tuhan, Engkau tahu maksud hati kami, untuk datang dan belajar dengan melihat, meniru, bertanya, dan mencoba di sini. Pada hari ini, anak-anak kami sudah menyelesaikan proses dimaksud. Kami tahu, bahwa perjalanan masih sangat, dan sangat jauh. Tetapi saya juga tahu bahwa tanpa proses ini, maka perjalanan yang sangat jauh itu tidak akan pernah saya dan KSU Baliem Arabica tempuh.

Engkah tahu, kami bukanlah orang tua dengan latar-belakang pengusaha. Kami sendiri lahir di zaman batu, ya Tuhan. Dan kami sekarang harus berjuang di era pascamodern. Kami tidak dapat mengharapkan siapapun datang membantu, kami harus bangkit, menyambut dan merebut masa depan yang tersedia. Kalau tidak, ya Tuhan, Engkau tahu, kami akan tertinggal. Kami akan disebut manusia zaman batu, manusia telanjang, manusia miskin, manusia kolot, manusia bodoh. Kami ciptaan-Mu, Tuhan! Kami tahu semua julukan dan anggapan ini meremehkan diri-Mu Pencipta kami. Kami berjuang untuk menutup kekurangan dalam kesempurnaan, demi masa depan orang Papua dan Tanah Papua, yang lebih maju dan berdaya-saing.

Biarlah semua orang Papua, pejabat, pegawai, pengusaha kecil dan besar, ibu dan bapak, kecil dan besar, tua dan muda, di kota dan di kampung, di hutan dan di luar tanah Papua, semua memahami dan maju selangkah dalam irama yang sama, bahwa kemajuan tanah Papua tidak ditentukan oleh Sukarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Mega, SBY, ataupun Jokowi. Semuanya tidak! Kami tahu, maju-mundurnya Tanah Papua ditentukan oleh kami orang Papua sendiri. Itu nubuat, dan itu realias hari ini, itu pula realitas yang kami lihat akan terwujud besok.

Dalam merayakan realitas mendatang itu, kami-pun mengambil langkah-langkah dalam segala kelebihan dan keterbatasan kami. Tuhan, kami hanya berjuang, Engkau-lah yang melengkapi dan menyempurnakan. Gerakanlah semua orang lain di pulau Jawa, pulau Sumatera, pulau Bali, pulau Borneo dan pulau Sulawesi, untuk memberikan dukungan moril dan doa.

Engkau tahu, kami tidak butuh dianak-emaskan atau diperlakukan khusus, kami tidak mengemis dan kami tidak mengeluh. Yang kami lakukan saat ini ialah memicu kebangkitan orang Papua sendiri mengejar ketertinggalan. Kami punya mimpi, membangun “Kerajaan Kopi Tanah Papua, yang megah dan perkasa!” bukan sebagai simbol kesombongan dan kebanggaan kami, bukan sebagai bukti Tanah Papua sebagai sorga kecil yang jatuh ke Bumi, bukan sebagai tanda Papua itu kaya. Bukan semuanya ini Tuhan. Ini hanyalah tanda, ya, tanda, bahwa kami ciptaan-Mu, kami anak-anak-Mu, dan kami hadir untuk memuliakan realitas itu saja, tidak lain.

Berkati mereka, engkau tahu nama mereka, engkau tahu rumah-tangga mereka, pribadi mereka, keluarga besar mereka. Engkau tahu pergumulan hidup mereka. Engkau tahu usaha cafe mereka di tengah persaingan ketat di Era MEA ini. Engkah kunjungi dan berkati mereka satu per satu. Pemilik cafe, para tutur, pelatih dan pembimbing anak-anak kami, calon Barista Papua.

Dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat! Amin!

Dalam cucuran air mata, doa inipun diakhiri. Ini bukan air mata buaya, bukan air mata kesedihan dan mengemis kepada Tuhan. Tetapi inilah airmata Ucapan Syukur! kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tuhan Pelindung Kita semua, Pohon Berkat! Ini air mata harapan, air mata kebahagiaan, karena satu dari sekian pintu telah terbuka bagi Tanah Papua, pintu memasuki Kerajaan Kopi Tanah Papua.

Kwano mengatakan magang seperti ini akan terus digiatkan sepanjang tahun 2016. Menurutnya, “Kalau Tuhan berkehendak, Tahun 2017 kita bicara tentang Baliem Blue Coffee sebagai sebuah product yang sudah siap masuk ke jaringan bisnis kopi di seluruh dunia.”

 

Facebook Comments
tags: , , ,