SPEKTRUM: Surga Kopi Ada Di Sini

Saturday, April 25th 2015. | Bisnis Kopi

Anggi Oktarinda  Jum’at, 24/04/2015 05:12 WIB

Indonesia mendapat julukan baru, Surga Kopi Dunia atau The World Coffee Heaven. Julukan itu disematkan kepada Indonesia pada acara ekshibisi ke-27 Specialty Coffee Association of America di Seattle, Amerika Serikat, pada 9—12 April 2015.

Sebutan yang sangat istimewa dan tentu saja tidak sembarangan. Apalagi, SCAA adalah tempat berkumpulnya komunitas kopi khusus paling besar dan berpengaruh di Negeri Paman Sam serta dunia. Sejak didirikan pada 1982, asosiasi ini telah memiliki jaringan anggota yang tersebar di 40 negara.

Di sisi lain, AS termasuk salah satu pangsa pasar utama kopi Indonesia. Data statistik Biro Sensus Departemen Perdagangan AS menyebutkan impor kopi AS dari Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$323,10 juta. Nilai impor itu meningkat US$32,76 juta atau 11,29% dibandingkan dengan 2013 sebanyak US$290,34 juta.

Komunitas kopi khusus itu menyematkan julukan Surga Kopi Dunia setelah melihat varian kopi dari Indonesia. Pada ekshibisi itu, Indonesia berhasil memikat komunitas dengan sajian 39 varian kopi khusus terbaik dari berbagai tempat di Tanah Air.

Kopi-kopi ini disajikan di Indonesian Café di Paviliun Indonesia setiap hari selama acara SCAA berlangsung. Mereka antara lain Flores Arabica Manggarai, West Java Arabica Preanger ‘Malabar Moun tain’, Sulawesi Arabica Toraja ‘Toarco-PB’, Sumatra Arabica Wahana Natural, Flores Arabica ‘Blue Flores’, Bali Arabica ‘Kintamani Natural’, Sumatra Arabica ‘Lintong Boemi Coffee’, Sumatra Arabica ‘Solok Minang’, dan Sumatra Arabica Gayo ‘Retro’.

Selain kopi, pada acara itu pula Indonesia memutar Aroma of Heaven, sebuah film dokumenter besutan sutradara Budi Kurniawan yang mengisahkan tentang perjalanan kopi Nusantara.

Adegan petani kopi di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, membuka film berdurasi 3 menit 45 detik itu. Sang sutradara pun membawa penonton ke Flores untuk menyaksikan kopi bajawa.

Terlihat bagaimana tanaman kopi tumbuh di berbagai tempat dengan kebudayaan berbeda, dan bagaimana para petani mencintai komoditas yang ditanamnya.

Siapa yang tidak kenal kopi, si “emas hitam” yang beraroma wangi dan menggugah selera ini? Kopi pertama kali dibawa ke Nusantara oleh kongsi dagang Be landa, VOC pada pertengahan abad ke-16.

Sejak itu, penduduk di negeri ini membudidayakan kopi sehingga tersebar ke berbagai wilayah. Mulai dari Aceh, Toraja, Flores, Jawa, hingga Papua.

Di negeri ini, setiap wilayah berbeda menghasilkan kopi dengan karakteristik berbeda pula, baik dari sisi tingkat keasaman aroma dan cita rasa. Rasa dan aroma kopi di dataran tinggi Gayo, misalnya, tidak akan sama dengan rasa dan aroma kopi Kintamani.

Karakteristik kopi Toraja juga tidak sama dengan karakteristik kopi Jawa. Belum lagi kehadiran kopi unik yang menjadi kopi paling mahal di dunia,
yakni kopi luwak.

Keunikan dan kekayaan inilah yang menjadi nilai tambah Indonesia saat mengekspor dan memperkenalkan biji kopinya kepada dunia. Baik kopi jenis robusta maupun arabika asal negeri ini selalu mengalami kenaikan permintaan.

Total ekspor kopi dari Indonesia pada 2014 mencapai US$1,1 miliar. Pemerintah menargetkan nilainya dapat tumbuh tiga kali lipat menjadi US$3,3 miliar pada 2019. Sebuah target yang patut di apresiasi, meskipun bukan hal mustahil.

Apalagi, mengingat realisasi ekspor kopi nasional sepanjang 2008—2013 yang berfluktuasi dari angka US$1,08 miliar (2008), turun menjadi US$929,82 juta (2009), naik kembali ke angka US$983,99 (2010), dan sempat bertengger pada angka US$1,56 miliar (2012).

Hanya saja, yang perlu mendapatkan perhatian adalah, kopi yang bagaimana dan dalam bentuk apa yang akan menjadi andalan ekspor? Apakah dalam bentuk mentah seperti yang sudah-sudah? Ataukah dalam bentuk produk bernilai tambah lebih, seperti biji yang sudah dipanggang
atau bahkan kopi bubuk?

Kemudian, apakah semua kopi dengan kualitas terbaik yang akan dilempar ke pasar luar? Sementara itu, hanya sedikit kopi berkualitas top yang disisakan untuk konsumsi pecinta kopi di dalam negeri?

Jangan lupakan, selain masyarakat global, kopi Indonesia juga digemari pecinta kopi di tataran nasional. Terbukti dari tingkat konsumsi kopi nasional yang terus tumbuh dari 0,8 kg per kapita per tahun pada 2010 menjadi 1,03 kg per kapita per tahun pada 2014.

Pada tahun depan, tingkat konsumsi kopi nasional diperkirakan menyentuh 1,1 kg per kapita. Tentu, sebuah ironi apabila penduduk Surga Kopi Dunia ini tidak dapat mencecapi kopi berkualitas terbaik di negeri sen diri karena sudah habis untuk diekspor.

Facebook Comments
tags: , , , ,